Saksi Bisu

‘Seandainya’ adalah sepenggal kata yang selalu terlintas di kepalaku.
Entah berapa kali aku mengulang kata itu tiap aku melihat kehidupan berlalu detik demi detik. Hanya kata itulah yang bisa aku pikirkan selagi aku berdiri kaku disini, di tengah keramaian orang yang asyik menghamburkan uang demi penampilannya.
Seandainya mereka tidak menilaiku hanya dari penampilanku yang menarik, dengan postur tubuh yang mereka ‘cap’ ideal. Aku rasa mereka akan memandangku lebih lama daripada semestinya. Mereka akan menghargaiku dan teman-temanku yang berdiri maupun terduduk kaku disini, lebih dari sekedar pemanis ruangan.
Seandainya mereka bisa melihat bahwa mataku ‘berbicara’ , aku yakin mereka tidak lagi memerlukan sosok sekuriti di depan pintu kaca ataupun kamera pemantau di berbagai sudut ruangan. Tanya saja kepada Desi, temanku yang selalu kagum terhadap sorotan mataku yang jeli. Aku bisa melihat wanita mana yang tidak mengembalikan barang di tempatnya atau tidak melipatnya kembali seperti semula.
“Kayanya karena lo selalu di depan deh, jadi pandangan lo terlatih. Nah gue? Boro-boro dipindahin ke depan. Muka aja kagak punya!”
Well, itu menurut Desi.
Seandainya mereka bisa mendengar bahwa mulutku ‘bergumam’, aku yakin mereka tidak perlu bertanya kepada perempuan berseragam yang berlalu lalang tentang ukuran apa dan dimana letak pakaian yang kukenakan. Seandainya aku bisa bertutur kata dengan bebas, aku yakin mereka akan mempertimbangkan komentar dan usulan ku terhadap pakaian, sepatu dan rambut yang akan kukenakan beberapa bulan kedepan. Setidaknya memandu mereka untuk memilih warna yang cocok untuk dikenakan pada kulitku yang hitam pekat. Sehingga tidak ada lagi komentar seperti,
“Itu rambut atau pom-pom cheerleader? Ngejreng bener!”
Ya. Komentar seperti itulah yang selalu kudengar dari teman-temanku yang berkulit putih layaknya kapas. Namun sayang, mereka hanya bermodal leher, dada dan perut. Alhasil, mereka tidak pernah sekalipun menggunakan lebih dari satu helai pakaian untuk melindungi ‘asset’ nya.
Seandainya mereka bisa mengerti bahwa aku memiliki perasaaan, aku yakin mereka tidak akan sembarangan menanggalkan pakaianku dan mendandani ku didepan umum, walau pintu kaca itu belum terbuka. Apalagi merasakan rabaan anak-anak kecil yang menyentuhku karena keingin tahuannya. Sungguh tidak nyaman rasanya ketika mereka menyentuh tubuhku atau menatapku aneh dari kursi dorongnya.
“Ayo dek satu suap lagi, tuh diliatin tante nya loh! Tante, liat nih adek gak mau makan…”
Andai aku bisa menggoreskan senyuman kepada babysitter dan anak balita itu, aku yakin mereka tidak akan pernah kembali lagi ke toko ini.Heran, aku baru tahu bahwa rambu yang melarang membawa makanan di depan tidak berlaku untuk anak-anak.
Seandainya orang-orang ini mengerti bahwa tidak mudah menjadi sosok yang mempunyai tingkat kesabaran setinggi langit, merelakan apa yang terjadi pada dirinya, hidup dibawah pengaturan sampai mengikuti tren yang ada, walau entah berapa lamanya.
Namun, ini lah yang bisa aku ungkapkan. Dan apa boleh buat, aku tidak bisa merubah takdir yang telah ditetapkan. Aku hanya bisa mensyukuri apa yang aku punya dan dimana aku berada. Setidaknya nasibku jauh lebih baik dari teman-temanku yang parasnya dilukis cantik, namun akibat minimnya perawatan, pangkal hidung mereka berluban dan terkadang jemarinya di balut selotip transparan agar tetap menyatu. Aku pun bersyukur bahwa aku bukan termasuk mereka yang terlantar di gudang, rapuh, berlapis debu, tanpa busana dan tubuh yang utuh.
Tapi lebih dari apapun, aku tetap memilih menjadi sesosok kaku di tengah keramaian seperti ini. Menjadi saksi bisu kehidupan manusia yang katanya berotak cerdas dan berperilaku mulia. Dengan semua ketidak nyamanan yang kurasakan, aku memilih menjadi diriku sendiri. Setidaknya lebih baik daripada menjadi mereka yang bisa bergerak tapi menjawab pertanyaan “aku gendutan ya?” dari pasangannya saja tidak bisa.
Comments