top of page

Celestial Conspiracy

  • Writer: Anizabella Lesmana
    Anizabella Lesmana
  • Nov 22, 2015
  • 3 min read

Rasanya sudah dua puluh menit lebih kuping ini panas mendengar celotehannya. Sudah dua puluh menit lebih kepala ini sesekali memberikan anggukan ketika ia berhenti berbicara dan menarik napas sebelum melanjutkan celotehannya. Sudah dua puluh menit lebih pula gue berpura-pura memerhatikannya. Ini adalah malam Sabtu yang sama sekali tidak cocok untuk disebut sebagai Blind date. Mengapa? Karena hal yang daritadi kami (well, dia) obrolkan adalah urusan pekerjaan. Lebih tepatnya lagi, keluhannya terhadap pekerjaanya sekarang.


“Untung malem ini gue ada excuse untuk ketemu lo”

Dia berujar sambil tersenyum simpul. Daritadi senyum yang dia berikan ke gue enggak ada hangat-hangatnya. Tipe perempuan yang senyumannya mahal.

“Emang kalau nggak ketemu gue, lo nggak bisa nolak ajakan meeting casual dari bos dan client lo itu, Dhir?”

Dia menggelengkan kepala. Sudah gue duga, Dhira adalah tipe perempuan yang hanya mementingkan pekerjaan. Semua akan Ia lakukan sepenuh tenaga untuk mendapatkan power dan kedudukan di kantor. Apalagi, kalau dia punya ambisi tersendiri.

“Gue tau banget meetingcasual itu gak akan menghasilkan sesuatu yg gimana-gimana. Paling cuma basa-basi”

“Basa-basi emang malesin sih. Gue juga enggak suka basa-basi”

Jujur, baru pertama kali ini gue ketemu cewek yang enggak suka basa-basi.

“Tujuan gue kerja dan nurut sama bos gue bukan itu. Gue punya objective lain”

Dan baru pertama kali ini juga respon gue dikacangin.

“Wah, jadi ini bisa dibilang lo crossing the line dong ya?”

“Ya kenapa enggak? Peraturan dibuat untuk dilanggar kan?”

Tuh kan. Gue bilang juga apa. Ambisius, untung cantik.

“Maaf ya Ren, daritadi gue nyeloteh terus. Kita baru pertama kali ketemu tapi gue udah begini—“

“Santai aja, Dhir”

Akhirnya nyadar juga dia. Iya santai aja Dhir, gue tau kok lo suka memegang kendali. Gue sih ngikut aja, karena gue anaknya mudah beradaptasi. Tapi mikir dua kali juga sih kalo harus beradaptasi sama lo yang selalu megang setir, semoga aja mau gantian.

“Oh iya, jadi gue harus pilih yang mana nih Ren? Spaghetti Alfredo with Truffle Oil atau Aglio Olio?”

Sudah hampir sejam kami duduk berdua disini, Dhira akhirnya baru membaca menu makanan. Luar biasa. Sementara gue udah menghabiskan sepiring pasta yang gue lupa namanya sembari mendengarkan celotehan Dhira. Tapi hebat juga dia, bisa langsung membatasi pilihannya langsung jadi dua pasta itu saja. Gue membolak balikan menu dan menentukan pilihan aja bisa menghabiskan 10 menit sendiri.

“Waduh, dua-duanya enak sih Dhir. Hmm… yang mana ya..”

“Susah nentuin pilihan ya Ren?”

“Hah? Enggak kok”

Kenapa nadanya seakan-akan lo ilfil sama respon gue ya Dhir?

“Iya juga gapapa tau Ren, temen gue juga ada yg kayak lo”

“Maksut nya?”

“Yang mudah beradaptasi kaya lo gitu, seru, charming, suka flirting, tapi susah menentukan pilihan”

Sekarang kenapa lo tiba-tiba yakin banget sama kepribadian gue ya Dhir? Lagipula, apa gunanya blind date ini kalo gue gak menggunakan kesempatan ini untuk flirting sama lo?

Oh, gue tau. Seperti yang sebelum-sebelumnya, pasti dia udah menyelidiki riwayat hidup gue lewat semua akun media sosial yang gue punya.

“Tapi sayangnya dia juga susah berkomitmen”

“Tunggu-tunggu, ini lo lagi ngomongin temen lo kan?”

“Iya. Kenapa? Lo tersindir?”

“Ha? Ya enggak sih..”

“Gue udah hapal sama cowo Gemini”

Dhira tersenyum simpul.

Saat itu juga gue tahu, kalo blind date ini tidak bakal berujung kemana-mana. Ini akan menjadi kencan yang diakhiri dengan satu kata perpisahan. Kencan yang berakhir tanpa ucapan terimakasih yang akan datang lewat Line atau Whatsapp beberapa menit setelah berpisah. Saat itu juga gue tahu, kalo Dhira adalah perempuan yang percaya pada ilmu astrologi dan semua yang berkaitan tentang itu. Salah satu hal yang gue gak cari di perempuan adalah pengetahuan dan kepercayaan terhadap astrologi.

“Gue langsung pesen desert aja deh Ren, tapi gue suka enggak habis. Lo mau kan nanti abisin?”

Iya Dhir, lagi-lagi lo yang memegang kendali. Halus juga ya cara lo untuk segera mengakhiri kencan ini. Gue ngerti kok, pasti menurut lo elemen kita gak cocok kan? Haha.

Ya tapi baguslah, karena gue makin percaya Dhira bukan perempuan yang gue cari. Sudah berkali-kali gue mencoba mendekati perempuan yang berkiblat pada astrologi, dan memilih pasangan berdasarkan cocok atau tidak cocoknya elemen bintang mereka, namun tidak ada yang berhasil gue dapetin.

Herannya, baru pertama kali ini gue bertemu dengan cewek Capricorn yang percaya sama astrologi. Setau gue mereka nggakkayak gitu.

 
 
 

Recent Posts

See All
Sweet Nothings.

It’s not a box of chocolates, or a bouquet of flowers. It’s not an exquisite placemat, with meals served on high towers. It’s not a ride home on shiny four wheels, with no backseat covers. Because it’

 
 
 
Unplanned

One of the hardest thing to deal with is when something you’ve fantasized or secretly wished had come true–on a bad timing. I mean, well yeah i thank god for making it came true but the timing have go

 
 
 
Flexing the writing muscles

Disclaimer : this post will be about me blabbering things that i’ve been wanting to write and share, so if it’s not float your boat, discontinue reading is strictly allowed. Well hello! What a time to

 
 
 

Comments


bottom of page